Seorang perempuan gaek muncul pagi-pagi buta di depan pintu gerbang milyuner itu. Udara masih bersih. Burung-burung kucica membuka paruhnya hebat-hebat di dahan pohon cemara. Penjaga baru saja menguap untuk keenam kalinya. Dia hendak meninggalkan posnya untuk mencari kopi ke dapur. Matanya yang masih berat itu jadi tertarik ke luar. Ia seperti melihat gombal menempel di jeriji pagar.
Perempuan tua itu mengulurkan tangan memanggil. Penjaga itu cepat-cepat datang dan membentaknya.
“Pagi-pagi sudah ngemis! Ntar lagi datang!”
Wanita itu tak bergerak.
“Hee, dengar tidak. Pergi dulu. Ntar digigit anjing kamu di sini. Sana!”
Perempuan itu tetap diam. Penjaga itu jadi bertambah marah.
”Kamu brengsek. Emangnya orang tidak boleh kaya. Pagi-pagi buta sampai tengah malam ada saja yang nggerogoti. Orang kaya juga perlu istirahat. Dikira orang kaya urusannya sedikit. Kalau urusannya sedikit, mana bisa kaya.”
Dia mengeluarkan lima perakan dari sakunya lalu melemparkannya ke arah orang tua itu.
”Pergi cepat. Ntar gua dimarahin lagi! Ayo!”
Tetapi perempuan itu diam saja. Ditolehpun tidak uang itu.
”Lho ini kenapa sih! Mau digigit anjing?”
Waktu itu dari dalam terdengar suara anjing menggonggong galak.
“Tuh dengar. Sana pergi!”
Dia mengeluarkan sepuluh perak lagi lalu membawanya dekat-dekat. Mengulurkan langsung.
”Sungguh mati gua nggak ada lagi duit Mak. Habis semalam dikuras habis-habisan. Ini juga tadinya mau beli rokok. Tapi biarlah. Asal doain biar gua cepetan kaya.”
Ia menaruh uang itu di tangan perempuan tua itu. Perempuan itu tiba-tiba memegang tangannya.
”Hee, kau mau apa?”
Orang tua itu berbicara, tapi tak jelas. Sekarang penjaga itu merasa sedang menghadapi orang gila. Dia menarik tangannya. Tapi perempuan tua itu ternyata memegangnnya kuat-kuat.
”Jangan main-main. Udah tua masih bertingkah, ntar gua tabok!”
Orang tua itu memandangnya tajam-tajam. Lelaki itu jadi gelisah.
”Udahlah, mau minta apa, bilang saja. Jangan pegangan tangan begini. Masak pagi-pagi sudah ribut.”
Orang tua itu ngomong tapi tak jelas.
”Apa?”
Orang tua itu ngomong lagi. Dia menerangkan sesuatu. Tapi benar-benar tidak jelas. Penjaga itu menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia melirik ke sekeliling takut kalau-kalau ketahuan orang lain. Tiba-tiba saja dia menyentakkan tangannya. Dia sendiri heran kenapa sekeras itu ia bergerak. Tapi ia lebih heran lagi tatkala ternyata kemudian ia masih tetap dalam genggaman orang tua itu. Ia jadi penasaran. Ia sentakkan sekali lagi. Orang tua itu tetap memegang tangannya kuat-kuat.
Sekarang penjaga itu mulai khawatir.
”Kau mau apa?”
Orang tua itu berbisik-bisik. Tak jelas juga apa.
”Apa?”
Sambil berkata itu, ia mendekatkan telinganya ke mulut perempuan itu. Pada saat itu pula, sebelah tangan yang lain, menyelusup lewat jeriji besi dan kemudian membekuknya. Penjaga itu jadi panik. Ia hampir saja hendak berteriak. Tapi lehernya terasa dibekuk keras. Perempuan tua itu mempunyai tenaga yang luar biasa.
Penjaga itu berusaha bergulat untuk melepaskan dirinya. Tapi cekikan itu bertambah kuat. Makin keras ia berontak, makin keras tangan itu menekan tenggorokannya. Ia jadi batuk-batuk karena sesak. Akhirnya ia tidak berusaha lagi berontak. Barangkali ia harus tahu terlebih dahulu, apa yang hendak terjadi. Paling tidak ia bisa berteriak nanti memanggil anjing-anjing.
Waktu ia tenang, bekukan itupun berkurang, tapi ia tetap tidak terlepas. Punggungnya menghadapi wanita itu, tertekan ke besi. Sedang matanya menatap ke halaman dalam. Beberapa ekor rusa bintik yang menjadi penghuni halaman, melihatnya dari kejauhan. Di belakang sana tampak juga pelayan sedang menjemur sesuatu. Tapi terlalu jauh. Sementara di telinganya terasa hangat bau nafas wanita itu. Ia mencium bau apek dan bacin.
Ia mulai berdoa, supaya perempuan gila itu jangan berbuat yang bisa membahayakan jiwa dan kedudukannya. Baru sekali ini ada keributan di pintu pagar. Salah-salah ia bisa dipecat. Atau diadukan lagi ke penjara, seperti dulu. Seandainya anjing-anjing dalam rumah dilepaskan saja, ia sudah bisa tertolong. Tapi ini masih terlalu pagi.
”Baik. Lepaskan dulu. Kau mau apa, Mak?”
Perempuan itu berbisik di telinganya.
”Apa?”
”Mana Munawir?”
”Apa?”
”Mana Togog!”
”Aku tak dengar apa-apa. Jangan ngomong bisik-bisik.”
Tiba-tiba wanita tua itu berteriak.
”Togog!”
Sambil berkata itu ia membekuk lebih kuat. Penjaga itu mulai lemas. Karena terkejut dan kesakitan. Tidak seorangpun berani mengucapkan nama itu keras-keras. Jangankan dalam halaman, di dalam kotapun orang segan untuk mengucapkannya. Nama itu mengingatkan majikannya pada kenang-kenangan lama yang dengan terang-terangan mau ia kubur. Ya, itu nama kecil jutawan itu, tatkala masih jadi gelandangan.
Kemudian bekukan itu diuraikan.
Tetapi penjaga itu sudah kehilangan tenaga. Ia jatuh ke depan pagar. Dari celananya merembes air kencing. Antara pingsan dan tidak, ia tergeletak di sana. Di kejauhan kijang-kijang itu mengangkat telinganya lalu menghindar. Sedangkan tukang cuci rumah tangga, yang sedang sibuk menjemur sprei basah, melihat ada sesuatu yang salah, terjadi di pintu depan. Ia berseru-seru memanggil tukang kebon.
“Lihat Otong semaput di sana!”
Penjaga kebon itu berlari-lari ke depan.
“Astaga,” katanya sambil meraba Otong. Ia segera melongok ke luar pagar. Perempuan tua itu masih di sana. Tanpa curiga-curiga dia bertanya.
”Kenapa sih dia?”
Perempuan tua itu memanggilnya mendekat. Tapi tukang kebon itu seorang yang awas. Ia mendekat tapi tidak membiarkan dirinya terpegang.
”Kenapa dia. Kamu lihat?”
Perempuan tua itu berbisik dan memanggilnya. Tapi tukang kebon itu tak perduli. Ia cepat berlari kembali ke belakang, untuk mengambil beberapa orang menggotong Otong. Sama sekali tidak memperhatikan wanita itu lagi. Juga tatkala tiga orang lain datang. Mereka semuanya lebih memperhatikan Otong.
Ada salah seorang mencoba untuk bertanya. Tapi tatkala wanita itu masih juga berbisik-bisik, ia langsung saja menganggapnya orang gila. Apalagi badan Otong terlalu berat. Dengan susah payah mereka menggotongnya.
Babu-babu, tukang cuci semuanya keluar melihat.
Tiba-tiba pula perempuan tua di balik pagar itu berteriak:
“Mana Togog!”
Semua orang tercengang. Beberapa orang memasang kuping lebih jelas.
“Mana Togog!”
Tatkala ucapan itu jelas, semuanya jadi ketakutan. Sambil mencuri-curi melihat ke luar mereka cepat-cepat masuk. Seolah-olah tidak tahu menahu apa yang sedang terjadi. Otongpun cepat-cepat dibawa masuk ke dapur. Sementara perempuan tua itu makin keras juga berteriak :
”Togog! Togog!”
Suaranya kemudian makin ngawur. Semua orang merasa sedang menghadapi orang gila. Tapi mereka kecut juga. Sudah pasti tuannya bakal marah besar kalau mendengar nama kecilnya diteriakkan begitu rupa. Dan kalau dia marah, berarti segala urusan bisa tidak beres. Bisa-bisa ada pemecatan. Atau tindakan-tindakan ngawur lainnya, untuk imbangan panggilan yang memang sangat dibencinya itu.
”Togog mana? Mana Togog? Suruh keluar!”
Para tukang kebon berunding. Akhirnya anjing-anjing dilepaskan. Binatang-binatang yang putih dan bertutul-tutul hitam itu segera meloncat. Kaki-kakinya yang kuat menghentak ke atas rumput. Mereka berhamburan ke pagar. Semua orang menjulurkan kepalnya melihat apa yang akan terjadi. Perempuan tua itu masih tampak di pintu pagar. Kedua tangannya berpegangan. Sedang mukanya menempel. Tak ayal lagi kalau anjing-anjing itu menerjang dan mencakarnya, ia akan berlumuran darah.
Tak seorangpun berpikir bahwa perempuan tua itu akan berani menghadapi anjing. Bahkan perawat anjing sudah begitu yakinnya, kalau wanita itu akan menghindar, sehingga ia tampak tenang saja. Baru tatkala beberapa orang babu memekik, ia jadi gelagapan. Di sana, anjing itu sudah menerjang. Mereka melompat, mencakar, mengibas dan menggigit. Babu menjerit-jerit. Sedangkan petugas anjing itu buru-buru berteriak memanggil anjing-anjingnya.
Binatang itu berhenti menyerang, tapi mereka belum mau kembali. Mereka masih mondar-mandir. Sambil mendengus-dengus mengancam. Sedang perempuan tua itu telah terluka. Kedua tangannya. Dadanya, serta juga mukanya kena cakar dan gigit. Darah yang segar menetes. Jatuh ke atas pintu besi itu. Jatuh ke atas tanah. Sementara ia tetap juga berteriak :
“Togog! Togog! Suruh dia keluar! Aku tidak minta anjing! Aku minta Togog. Apa Togog sama dengan anjing?”
Perawat anjing berlari menenangkan anjing-anjingnya. Ia jadi ketakutan. Diusirnya binatang-binatang itu masuk. Takut kalau dilihat oleh orang-orang di sekitar, bahwa piarannya telah melukai orang. Kemudian dia mendekat. Mukanya jadi pucat pasi melihat darah. Ia memang telah mengajari binatang itu dengan tepat bagaimana membetot orang. Tapi yang dimaksudkannya adalah maling bukan wanita tua. Ia cepat berlai ke dapur. Kemudian kembali bersama para babu membawa kapas dan yodium.
Pagar tidak dibuka. Tak ada yang berani membuka.
“Sini Bu, biar dirawat Bu!”
Tapi orang tua itu mengelak. Ia mundur beberapa langkah. Hanya matanya yang menancap terus. Orang-orang itu tak dihiraukannya. Ia melemparkan matanya jauh-jauh ke atas loteng rumah, di mana disangkanya orang yang dicarinya sedang tidur.
Sebetulnya lukanya tidak parah. Akan tetapi kalau dilihat oleh orang-orang, kejadian itu bisa menjadi soal besar. Para pelayan tidak tahu apa yang harus mereka kerjakan. Ada yang mengusulkan untuk membuka pintu. Tapi kebanyakan lebih suka pintu ditutup saja. Sebab tidak seorangpun yang boleh membuka pintu kecuali para penjaga. Sedangkan penjaga pintu, masih menggeletak kebingungan. Penjaga yang harus jaga siang, masih belum datang untuk aplusan. Di samping itu, semua kebingungan, karena perempuan tua itu makin gencar berteriak : ”Togog! Togog! Togog!”
Mereka tidak tahu apa yang harus mereka lakukan.
Sementara itu di depan sana, sudah muncul beberapa orang penonton. Mereka memperhatikan darah di tangan perempuan tua itu dengan penuh minat.
Perawat anjing merasa paling bertanggung jawab.
“Buka saja pintu, lukanya harus diobati, kalau tidak bisa infeksi!”
Seorang berlari hendak mengambil kunci dari saku Otong. Akan tetapi orang ini ternyata sudah siuman. Ia masih terkatung-katung. Kunci itu tak mau dilepasnya.
”Orang tua itu luka,” kata seorang babu.
Otong mulai lagi memperoleh kesadarannya.
”Luka? Biar. Itu orang gila. Jangan dibuka.”
Ia sendiri tak mau lagi pergi ke depan. Para babu kebingungan. Ada yang mengusulkan supaya mengetuk pintu kamar majikan untuk melaporkan. Tapi baru setengah enam. Majikan mereka tidak pernah keluar sebelum pukul setengah tujuh. Orang itu tidur telat. Terlalu banyak urusannya, jadi waktu istirahatnya yang paling enak, tidak boleh diganggu.
Sementara di depan pagar, orang sudah makin banyak menonton. Salah seorang di antaranya bertanya kepada orang tua itu.
”Kenapa sih, Bu?”
Orang tua itu menunjuk ke dalam.
”Kurang ajar!”
”Kenapa?”
”Setelah kaya semua orang jadi kejam!”
”Memangnya kenapa?”
”Aku hanya mau ketemu dikasih anjing!”
”Ketemu siapa?”
”Togog. Togog!”
Semua orang bengong. Mereka tak berani lagi bertanya. Sekarang mereka tahu, mereka sedang berhadapan dengan orang gila. Tak seorangpun di antara mereka yang dendam kepada orang kaya itu. Reputasinya dalam masyarakat bagus. Bahkan mereka ikut tersinggung. Salah seorang diantaranya mulai mencoba menenangkan. “Jangan ngomong-ngomong begitu. Sana pulang saja!”
Orang tua itu marah.
“Pulang? Kamu suruh saya pulang dari sini? Gila. Ini kan rumah Togog!”
”Ssssttt! Jangan ngomong ngawur!”
”Ngawur bagaimana? Saya mau ketemu Togog!”
”Ssssttt! Jangan sebut nama itu!”
”Jangan? Kenapa?”
”Tidak baik.”
Orang tua itu mencibir. Mukanya merah padam.
”Aku tidak boleh bilang Togog? Kenapa? Dari dulu aku selalu bilang Togog. Habis namanya siapa?!”
”Pak Ismaya Bismantara.”
Orang tua itu komat-kamit.
”Aku tidak pernah kasih dia nama begitu. Namanya Togog!”
Orang-orang mulai memperhatikan. Mereka curiga. Banyak orang gila dalam kota, tapi belum ada yang gila seperti orang tua itu. Mereka mulai merasa-rasa bahwa perempuan itu sedang hendak melakukan penipuan. Salah seorang bertanya.
”Kamu kok berani sekali bilang Togog. Kamu siapa? Kamu ibunya?”
Perempuan tua itu mengangguk dengan tenang dan mantap.
”Ya. Aku ibunya. Ibu Togog!”
Semua orang kemudian menarik nafas. Beberapa orang cepat meninggalkan tempat itu. Para penjaga kemudian berbisik-bisik. Babu-baku mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. Mereka kembali ke belakang. Bahkan perawat anjing memanggil dua ekor anjing untuk tetap berjaga-jaga di depan pagar.
”Sialan!” Gerutunya. ”Coba dari tadi bilang. Kalau dari tadi tahu, biar anjing-anjing dia menyobek mukanya sekalian. Mulut kotor!”
Perempuan tua itu ditinggalkan begitu saja.
Soalnya, ini bukan untuk pertama kalinya orang datang mengaku ”ibu” Ismaya Bismantara. Dua tiga kali yang pertama, mereka pernah dibiarkan masuk. Tetapi Ismaya kemudian melabrak semua orang karena sudah termakan lelucon yang ngawur itu.
”Kamu mau apa? Kamu mau menyindir saya. Saya memang pengemis dulu. Tapi tahu aturan! Tidak semua pengemis adalah ibuku! Aku tidak ada urusan dengan pengemis sekarang. Aku sudah cukup memberikan mereka perhatian!” teriaknya marah-marah. Lalu penjaga gerbang dipecatnya.
Itu pelajaran pahit. Masih ada beberapa orang lagi muncul di depan pintu mengaku Ibu. Mereka semuanya dapat diusir setelah diberikan sejumlah uang. Ada juga di antaranya yang memakai surat pengantar, entah dari siapa. Ada yang membawa koper lengkap dengan anak bininya, mengaku di kampungnya kebanjiran lalu minta perlindungan. Semuanya dapat diatasi oleh para penjaga, cukup dengan sekedar derma. Bahkan pengurus rumah tangga telah menyediakan sedikit biaya setiap bulan untuk melayani orang-orang yang mengaku keluarga Ismaya Bismantara.
”Aku ibunya!” teriak perempuan tua itu.
Tak ada yang menghiraukan lagi. Setiap kali ia mencoba hendak mendekati pagar lagi, kedua anjing itu selalu siap. Sementara petugas rumah-tangga cepat-cepat menulis dalam pembukuannya sederetan angka. Lalu lebih kecil dari angka itu ia sisihkan dari dalam almari – untuk kemudian diberikan kepada perempuan tua itu.
”Nih!” katanya sambil meletakkan di depan pagar. ”Sekarang pergi!”
Orang tua itu sedikit pun tidak menoleh. Ia terus menatap ke arah loteng.
”Aku tidak butuh uang. Aku mau ketemu Togog!”
Petugas itu mengangkat bahunya.
”Ini ditambah sedikit!”
Ia menambah.
Perempuan tua itu menggeleng.
”Aku mau ketemu Togog!”
”Mau minta apa?”
Perempuan itu menggosokkan tangannya yang luka.
”Aku sudah lama tidak ketemu dia.”
Sekarang tinggal satu kemungkinan. Barangkali orang tua itu memang gila. Atau seorang penipu yang ulet.
Waktu itu Otong mulai bisa berpikir lempeng lagi. Para babu mengerumuninya. Semuanya mendengarkan dengan mulut menganga. Apalagi Otong tak bisa mengekang dirinya untuk menambah-nambahi di sana-sini, sehingga ia tidak usah malu.
”Dia mencekek gua. Gua sudah melawan. Waktu gua mau berteriak, mulut gua disumpalnya. Salah seorang di antara mereka merogoh saku gua. Semua duit yang ada mereka sikat. Tapi bukan hanya itu. Dia memang haram jadah. Ada juga yang mencoba untuk memegang kontol gua. Mungkin ada yang bencong di antara mereka. Ya. Memang memegang kontol gua. Dia menyelusupkan tangannya. Tentu saja gua berontak, tapi nggak bisa. Gua geli amat. Bayangin bagaimana kalau kita yang dirogoh. Ya geli. Sampai gua terkencing-kencing. Akhirnya begitulah, gua tidak bisa menahan diri. Gua memaksa berontak. Tahu-tahu gua digebrak sampai pingsan. Sialan! Mestinya dia dipanggilkan anjing saja biar dirobeknya!”
“Sudah!”
Otong terkejut.
“Apa? Sudah dipanggilkan anjing?”
Mereka semua acuh tak acuh saja. Mereka tahu Otong tukang ngibul.
”Lho yang bener. Perempuan itu bagaimana sekarang?”
”Lihat sendiri ke depan!”
Tapi Otong tidak berani ke depan lagi. Malu atau barangkali juga takut.
”Tangannya, mukanya dan perutnya sobek,” kata salah seorang babu kemudian.
Otong terpesona.
Sementara itu para pelayan itu mulai berunding apa yang harus mereka kerjakan. Sebentar lagi, pintu kamar majikan mereka akan terbuka. Dan satu jam kemudian dia sudah akan dalam mobilnya untuk melalui gerbang itu. Kalau mereka tidak mengamankannya, pasti buntutnya bakal tidak enak.
Salah seorang di antaranya kemudian hendak memanggil Hansip. Akan tetapi bagian keamanan tidak setuju. Ia merasa itu merupakan kewajibannya.
”Ntar kalau Hansip datang, kita yang disalahin, kenapa tidak menyelesaikan ini.”
”Ya udah kalau begitu, kamu selesaikan!”
”Ya kita tidak bisa berbuat apa-apa. Itu kan terjadi di luar gerbang?!”
”Kalau begitu panggil polisi saja.”
Semuanya berpikir.
”Panggil polisi pakai telepon. Biar dibereskan dari luar. Aku kenal polisi yang di seksi sana!”
Mereka berunding. Akhirnya bagian keamanan setuju juga. Tapi dia terlebih dahulu pergi ke depan. Karena dia harus berjaga-jaga di sana sebelum polisi datang.
Telepon kemudian diangkat. Polisi diminta datang. Disanggupi.
Tapi perawat anjing yang mengangkat telepon itu kemudian tertegun. Ia meletakkan telepon itu kembali dengan tenang. Dari megapon yang dipasang di dinding dan langsung berhubungan dengan kamar majikannya, terdengar perintah :
”Jangan panggil Polisi!”
Salah seorang di antara mereka memberanikan menjawab :
”Tapi ada orang gila di depan gerbang pak!”
“Dia bukan orang gila.”
“Dia hampir saja membunuh Otong.”
”Itu karena Otong yang gila. Mana Otong?”
Otong cepat ke dekat megapon.
”Saya pak.”
”Kamu tahu kamu gila?”
”Saya pak.”
”Aku lihat apa yang terjadi dari sini. Kenapa kamu ganggu orang itu tadi?”
”Saya pak”
”Sudah saya bilang dari dulu, tidak boleh ada komunikasi antara orang dalam pagar dan orang di luar pagar. Ini bukan perintah bini kamu yang kamu iya-iyakan tapi kamu langgar di belakang. Ini peraturan. Perintah!”
”Saya tuan. Saya minta maaf.”
”Kamu sudah terang salah. Tidak usah minta maaf.”
”Saya tuan.”
Majikan itu terdengar batuk. Memang sudah beberapa hari ia sakit. Semua orang tidak ada yang berani bercakap-cakap. Semuanya mendengarkan dengan ketakutan.
”Sekarang dengar!”
”Saya tuan.”
”Kamu semuanya ada di situ?”
Semuanya menjawab berbareng untuk menunjukkan kehadirannya.
”Sekarang dengar. Kamu telah bikin kesalahan karena memanggil polisi. Polisi itu akan datang ke mari bukan?”
Semuanya berpandang-pandangan. Perawat anjing itu berbisik-bisik. Tapi Otong sudah terlalu cepat menjawab :
“Ya Tuan.”
“Nah sekarang dengarkan. Apa yang harus kamu kerjakan!”
”Ya Tuan.”
”Keluarkan semua anjing. Siapkan penjagaan. Berjaga-jagalah, tapi jangan ngomong. Aku tidak suka orang ngomong. Kerjakan semuanya dengan bisu. Lalu sediakan sarapan pagi. Lengkap. Siapkan air panas. Siapkan kamar tamu. Orang yang di depan itu, siapa namanya?”
”Tidak tahu tuan.”
”Kamu sempat memperhatikan mukanya?”
”Sempat tuan.”
”Apa dia memiliki tahi lalat di ujung hidungnya?”
Otong kebingungan.
”Apa dia memiliki cacat di tangannya?”
”Maaf tuan, saya tidak tahu.”
”Tapi dia luka sekarang karena anjing kamu?”
”Benar Tuan.”
”Kamu gila!”
”Saya tuan.”
”Saya sudah bilang jangan goblok. Pandai-pandailah. Pakai otak kalian semua. Ternyata semua tidak tahu siapa perempuan yang di depan itu.”
”Saya tuan.”
”Anjing-anjing sudah dilepas lagi?”
“Saya tuan.”
“Lepaskan anjing-anjing sekarang dan jaga ketat semuanya!”
Perawat anjing cepat bertindak. Anjing dilepaskan. Halaman itu dijaga keras. Anjing-anjing itu melompat-lompat dengan gembiranya. Tapi mereka tak berani menyerang. Tatkala salah seorang terlanjur melompat ke pagar, perawat itu segera menggertaknya. Anjing itu jadi kemalu-maluan.
“Sudah?”
“Sudah tuan.”
“Sekarang bukakan gerbang.”
Orang-orang itu tertegun sesaat.
“Buka gerbang!”
Semuanya belum ada yang bergerak.
“Otong!”
“Saya Tuan.”
“Kamu yang membukakan pintu!”
Otong terkejut.
”Kamu kan bukan penakut! Kamu pernah masuk penjara! Kamu bilang kamu pernah menangkap maling. Masak sama perempuan kamu takut? Kamu takut?”
”Tidak tuan.”
”Buka pintu. Bawa perempuan itu masuk ke mari. Suruh dia mandi. Tukar pakaiannya. Obati luka-lukanya. Panggil dokter supaya memberi suntikan. Kasih dia makan. Dan kamu semua harus ngomong hormat sama dia. Kamu dengar semua?”
Semuanya menjawab serentak.
”Saya tuan.”
”Oke. Orang itu ibu saya. Bawa dia cepat masuk!”
Klek. Megapon dimatikan. Para babu, pelayan semuanya tercengang. Tapi kemudian cepat bertindak. Otong sebenarnya masih segan-segan. Tapi babu-babu cepat mendorongnya.
“Lhu sih goblok. Gara-gara lhu, jadi begini sekarang!”
Otong meneguk kopi sebelum ke depan gerbang. Ia berdoa dalam hati. Kemudian ia menyisipkan belati. Rasa-rasanya ia akan berkelahi. Dan ia harus membela kehormatannya. Apa boleh buat.
Pintu itu dibuka. Wanita itu masih tegak di sana. Matanya masih tetap memandang ke loteng. Ia sama sekali tidak gentar melihat anjing-anjing menjaga ketat. Ia juga tidak heran tatkala pintu dibuka. Ia hanya mendengus-dengus. Kelihatannya menahan sakit.
Anjing-anjing melonjak hendak ke luar. Tapi para penjaga memegang talinya kuat-kuat. Pintu gerbang terbuka seret, karena Otong masih saja ragu-ragu menjalankan tugasnya. Lehernya terasa sangat kering.
”Mari masuk, Bu!”
Pintu telah menganga. Orang-orang yang lewat di jalan pada berhenti. Mereka memperhatikan dengan berbisik-bisik. Baru sekali ini, mereka melihat pintu dibuka untuk seorang pengemis. Tak seorangpun mengerti bahwa para pelayan itu sedang menganggap wanita tua itu sebagai ibu dari majikannya.
”Mari masuk, Bu.”
Orang tua itu komat-kamit.
”Mana Togog?”
Togog alias Ismaya Bismantara sedang berdiri di depan jendela di loteng. Di tangannya sebuah teropong. Ia memperhatikan segala sesuatu dengan seksama. Hanya ujung teropongnya yang tersembul. Di balik itu ia mungkin masih mengenakan pakaian tidurnya.
“Mana Togog?”
Salah seorang pelayan maju menggantikan Otong yang tak bisa ngomong.
”Silahkan masuk, Bu.”
”Togog mana?”
”Beliau sedang sakit.”
”Aku juga sedang sakit.”
”Kami disuruh mempersilahkan ibu.”
”Suruh dia sendiri ke mari!”
Pelayan itu kebingungan. Salah seorang yang lain maju.
”Mari Bu masuk!”
Perempuan itu mengangkat tangannya.
”Aku gampar kalau kamu ngomong lagi! Suruh Togog ke mari!”
Pelayan itu tidak kehilangan akal. Ia membawa salah seekor anjing ke luar. Seperti hendak memaksa masuk kemudian ia meminta. “Masuk Bu!”
Suara itu agak memerintah. Orang tua itu mendongakkan kepalanya. Tiba-tiba saja ia menunduk. Dipungutnya sebuah batu lantas dilemparkannya tepat mengenai muka orang itu. Pelayan itu menjerit. Ia menutup mukanya. Darah mengucur di tangannya. Anjing yang dipegangnya lepas. Anjing itu segera menerjang. Anjing-anjing yang lain menyalak. Orang-orang di pinggir jalan berlarian. Sementara perawat anjing kebingungan dan panik. Wanita tua itu hampir saja disobek-sobek anjing.
Lalu tampak Ismaya Bismantara berlari dengan piyamanya menuju ke gerbang. Ia membentak anjing-anjing itu. Kemudian ia memegang tangan perempuan yang berdarah itu. Anjing-anjing surut dengan ketakutan. Para pelayan kembali dapat menguasai dirinya.
“Ibu, “ kata Ismaya.
Orang tua itu diam saja.
Ismaya milyoner itu segera membimbingnya. Tapi orang itu sudah terluka. Ismaya kemudian membopongnya. Iring-iringan itu kembali masuk ke dalam rumah. Pintu ditutupkan. Kemudian orang banyak mengintip ke dalam, sambil penuh dengan segala macam penafsiran.
Dokter keluarga yang datang, cepat merawat luka-luka perempuan itu.
Milyoner itu tidak mengatakan apa-apa. Perempuan tua itu juga diam saja. Para pelayan juga membisu. Sedangkan dokter juga tidak bermaksud untuk bertanya-tanya.
Perempuan itu disuruh mandi, paling tidak mencuci tangan dan mukanya. Tapi ia menolak. Waktu pakaiannya hendak diganti ia kelihatan gembira, tapi kain itu hanya dikaguminya saja. Ia tidak mau memakainya. Lalu tatkala hidangan diberikan, ia hanya menatap dan menghirup. Cuping hidungnya kembang kempis. Matanya berbinar-binar. Tetapi makanan itu juga tidak disentuhnya.
Para pelayan jadi heran.
Sementara itu polisi telah datang. Milyoner itu mempersilahkan para polisi untuk ikut makan. Para petugas ini menolak keras. Ismaya kemudian mulai membuka suara.
”Jadi inilah ibu saya,” katanya.
Semua orang tercengang. Tapi tak membantah, karena orang itu masih hendak bicara terus.
”Bertahun-tahun saya menunggu, tapi akhirnya dia datang juga. Mulai sekarang saya tidak akan mencari-cari lagi. Hentikan iklan-iklan itu. Ibu sudah datang. Sudah ketemu. Mulai hari ini disaksikan oleh kalian semua, para pegawai di sini, pak Dokter dan bapak-bapak Polisi, ibu akan tinggal di sini merawat saya. Saya akan dengan tenang sekarang mencari seorang istri, karena sumpah saya selama ini terkabul. Yaitu menemukan ibu saya. Sebab kalau tidak saya akan membujang terus!”
Dia beristirahat sejenak. Batuk-batuk.
”Jadi benarkan ibu ini, ibu saya. Bukan begitu, Ibu?”
Pertanyaan itu diajukan kepada wanita itu. Perempuan itu tidak menjawab tapi hanya memandang. Semua orang jadi tegang. ”Benarkah Ibu, ibu saya?”
Perempuan itu komat-kamit.
”Benarkah Ibu, adalah ibu saya?”
Perempuan itu komat-kamit.
”Benar?”
Akhirnya perempuan itu bicara juga.
”Ya.”
Milyoner itu menarik nafas lega. Dia memandang kepada orang-orang yang ada di dalam ruangan.
“Lihat. Inilah ibu saya. Sebagai seorang anak yang mencintai ibunya tentu saja, saya berkewajiban untuk merawatnya di sini. Dia harus disenang-senangkan untuk menyongsong masa tuanya. Segalanya akan saya kerjakan untuk ibu. Itu memang sudah kewajiban seorang anak. Tetapi ada satu hal.”
Ia berhenti lalu memandang kepada para polisi.
”Pak polisi tahu, saya adalah warga negara yang patuh. Saya orang jujur yang setia kepada Pemerintah dan undang-undang. Itulah yang telah menyokong usaha-usaha saya dari seorang pengemis, kemudian tukang semir sepatu, lalu menjadi tukang ketoprak, dan terus sampai sekarang, termasuk orang yang dianggap berada. Karena saya patuh pada undang-undang. Bukan begitu pak polisi?”
Para polisi mengiakan. Milyoner itu tersenyum.
”Ibu lihat sendiri, bagaimana hubungan saya dengan para petugas. Saya selalu membantu undang-undang. Bahkan saya lakukan juga, tatkala salah seorang pelayan kesayangan saya mencuri. Saya adukan dia kepada polisi. Dia mendapat hukuman penjara. Tapi kemudian setelah ke luar, saya terima lagi di sini. Itu semua untuk mengajarkan bahwa hukum harus ditaati, meskipun dalam keluarga. Begitu bukan Otong?”
”Ya tuan!” kata Otong dengan bangga.
”Berapa banyak kamu mencuri?”
”Seratus ribu tuan.”
”Dari mana?”
”Dari dalam laci tuan.”
”Kamu malu sekarang mengaku bahwa kamu telah mencuri?”
”Tidak tuan. Karena saya telah menebusnya di penjara.”
”Kamu dendam pada saya?”
”Sama sekali tidak tuan. Malahan saya harus berterima kasih. Kalau tidak karena tuan, mungkin saya sudah jadi pencuri.”
Majikan itu terdiam.
”Betul itu pak polisi?”
Para polisi mengiakan.
”Jadi begitulah ibu. Ibu dengar sendiri. Sekarang saya dengan gembira dan tak malu-malu mengakui, bahwa Ibu, adalah ibu saya. Justru saya merasa bangga berani mengakui bahwa ibu saya miskin seperti ini. Akan tetapi, satu hal tidak bisa saya tolak. Karena ini bukan wewenang saya. Begini. Saya telah mengadukan apa yang terjadi dalam keluarga kita. Ibu tentunya masih ingat bukan? Peristiwa meninggalnya Bapak dan kedua adik saya bertahun-tahun yang lalu. Masih ingat kan? Waktu itu saya masih kecil sekali. Tapi saya ingat jelas sekali. Paras Ibu masih sangat cantik. Ada orang menggoda ibu dan menawarkan kekayaan. Ibu mau. Tapi Ibu tak mungkin melepaskan Bapak dan Adik-adik. Mereka tidak mau bercerai dengan ibu. Lalu ibu membelikan mereka makanan. Saya ingat sekali hari itu. Hari yang amat na’as! Kebetulan perut saya sakit, jadi saya tidak ikut makan. Tanpa setahu ibu, makanan itu saya umpetin. Ini untung sekali. Karena esoknya bapak dan kedua adik saya diketemukan mati. Perutnya bengkak; ibulah yang melakukan pembunuhan itu!”
Semua orang tercengang. Sebelum orang lain bergerak, majikan itu menoleh kepada polisi.
”Saya serahkan kepada bapak, bagaimana selanjutnya. Anda tahu saya seorang warga negara yang patuh.”
Cepat kemudian dia kembali ke loteng. Para polisi segera bertindak. Mereka memborgol wanita itu. Tak tahu bagaimana mereka bisa datang lengkap dengan borgol. Mungkin sudah diatur terlebih dahulu.
Wanita itu berontak. Tapi para polisi tidak tolol seperti Otong. Mereka dengan keras meringkusnya lalu membawanya ke luar. Orang-orang yang berada di depan pagar, minggir tatkala pintu itu dibuka. Mereka meloncat-loncat hendak menjenguk ke mobil polisi yang membawa perempuan itu. Semua menggeleng-gelengkan kepala. Dengan seribu tanya, mereka menyerbu Otong. Tapi pelayan ini sudah bertambah pintar. Tidak ada komunikasi lagi. Ia membungkam.
Di atas loteng, milyoner itu duduk kembali di dekat telepon. Seperti tidak terjadi apa-apa, ia kembali meneruskan membaca. Ia sudah sampai pada halaman 103 tatkala Sherloc Holmes sedang berdiri di depan Dr. Watson dan menerangkan analisa yang jenial, bagaimana dia membongkar komplotan yang sejak lama menggegerkan otak polisi.
Tak sampai dua jam kemudian telepon berdering.
“Ya, kantor Polisi?”
“benar. Ini Pak Ismaya?
”Ya. Bagaimana?”
”Seperti bapak katakan.”
”Bagaimana?”
”Perempuan itu sekarang sudah mengaku bukan ibu bapak.”
”Bagus.”
”Kami akan segera mengirimkannya ke penjara.”
Orang kaya itu meletakkan telepon. Mukanya murung. Ia tidak membaca lagi. Ia menatap ke halaman. Ke pagar besi itu. Sekarang sudah sepi. Tampak seorang penjaga sedang merokok dalam posnya. Rasanya sudah pasti tidak akan ada lagi orang berani mengaku-ngaku ibunya.
Ia menekan lagi megapon.
”Pasang lagi iklan, mencari ibu itu! Lebih besar!”
Diambil dari: Kumpulan Cerpen Putu Wijaya ”BLOK”

